Berlibur Sambil Memahami Falsafah Hidup Masyarakat Kampung Cireundeu
Pada liburan semester genap
kemarin saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke salah satu kampung adat yang
berada di Cimahi. Saya kesitu karna saya penasaran dengan kampung yang disebut
oleh warga sebagai kampung Adat Sunda Cireundeu. Karena konon katanya banyak
sekali falsafah hidup kesundaan yang diterapkan disana. Oke kita lanjut ke
pembahasan falsafah hidup Masyarakat cireundeu deh.
Kata falsafah atau
filsafat dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Arab فلسفة, yang juga diambil dari bahasa Yunani; Φιλοσοφία philosophia.
Dalam bahasa ini, kata ini merupakan kata majemuk, dan berasal dari kata-kata
(philia = persahabatan, cinta dsb.) dan (sophia = "kebijaksanaan").
Sehingga arti harafiahnya adalah seorang “pencinta kebijaksanaan”.Kata filosofi
yang dipungut dari bahasa Belanda juga dikenal di Indonesia. Bentuk terakhir
ini lebih mirip dengan aslinya. Dalam bahasa Indonesia seseorang yang mendalami
bidang falsafah disebut "filsuf".
Setelah kita mengetahui arti falsafah,
Selanjutnya kita beralih kepada pembahasan Falsafah Hidup Masyarakat Kampung
Cireundeu.
Kampung
Cireudeu adalah sebuah bukit kecil yang dihuni oleh 50 KK atau 800 jiwa yang
memiliki tradisi berbeda. Sebagian penduduk Cireundeu, sejak ratusan tahun
silam (sejak tahun 1918), tidak pernah menggunakan beras lagi sebagai bahan
makanan pokok. Masyarakat Kampung Cireundeu merupakan suatu komunitas adat
kesundaan yang mampu memelihara, melestarikan adat istiadat secara turun
temurun dan tidak terpengaruhi oleh budaya dari luar. Situasi kehidupan penuh
kedamaian dan kerukunan “silih asah, silih asih, silih asuh,
tata, titi, duduga peryoga“. Mereka memegang teguh pepatah Karuhun
Cireundeu: “Teu nanaon teu boga huma ge asal boga pare. Teu nanaon teu
boga pare gi asal boga beas Teu nanaon teu boga bias ge asal bisa ngejo
Teu nanaon teu bisa ngejo ge asal bisa nyatu. Teu nanaon teu bisa nyatu ge asal
bisa hirup.”
Kampung Cireundeu
mempunyai filosofi kehidupan yang sangat unik, dimana nuansa hidup yang santun
dalam nafas setiap insan warga kampung, mencintai lingkungan, budaya sunda dan
kesenian khas masih terjaga dan terpelihara, sebagian masyarakatnya masih
mempertahankan adat leluhurnya .
Masyarakat Cireundeu
menyebut diri mereka penganut Sunda Wiwitan, Sunda Wiwitan sendiri mengandung
arti Sunda yang paling awal dan bagi mereka agama bukan sarana penyembahan
namun sarana aplikasi dalam kehidupan, karena itu mereka memegang teguh tradisi
dan jarang sekali ditemukan situs-situs penyembahan. Pangeran Haji Ali Madrais
yang diakui sebagai nenek moyang masyarakat Cireundeu mungkin mendapat gelar
Haji bukan karena dia benar-benar pergi memenuhi rukun Islam tetapi mendapat
sebutan Haji karena dianggap sebagai pemimpin atau imam, kata Undang Ahmad
Darsa yang juga banyak menulis buku tentang sejarah dan perkembangan Sunda. Aliran
kepercayaan Sunda Wiwitan masih eksis bertahan dan memiliki penganut setia di
di Kampung Cireundeu. Namun dari segi keunikannya, warga kampung ini masih
mengonsumsi singkong sebagai makanan pokok dan mayoritas masih menjalankan
ajaran Pangeran Madrais dari Cigugur, Kuningan itu.
Secara
fisik Cireundeu memang kampung biasa, namun karena ketatnya menjalankan tradisi
karuhun, kampung ini akhirnya dikukuhkan secara de facto sebagai kampung adat.
Kepercayaan ini dikenal juga sebagai Cara Karuhun Urang (tradisi nenek moyang),
agama Sunda Wiwitan, ajaran Madrais atau agama Cigugur. Mereka percaya pada
Tuhan, dan teguh menjaga kepercayaan serta menjaga jatidiri Sunda mereka agar
tidak berubah. Falsafah hidup masyarakat Cireundeu belum banyak berubah sejak
puluhan tahun lalu, dan mereka masih memegang ajaran moral tentang bagaimana
membawa diri dalam hidup ini. Ritual 1 Sura yang rutin digelar sejak kala,
merupakan salah satu simbol dari falsafah tersebut. Upacara suraan, demikian
warga Cireundeu menyebutnya, memiliki makna yang dalam. Bahwa manusia itu harus
memahami bila ia hidup berdampingan dengan mahluk hidup lainnya. Baik dengan
lingkungan, tumbuhan, hewan, angin, laut, gunung, tanah, air, api, kayu, dan
langit. “Karena itulah manusia harus mengenal dirinya sendiri, tahu apa yang
dia rasakan untuk kemudian belajar merasakan apa yang orang lain dan mahluk hidup
lain rasakan”. Selain itu masyarakat Cireundeu menghormati leluhur mereka
dengan tidak memakan nasi melainkan singkong.
Pangeran
Madrais pernah berkata, jika orang Cireundeu tidak mau terkena bencana maka
pantang makan nasi. Sekarang terbukti, dimana orang lain bingung memikirkan
harga beras yang makin naik, warga sini adem ayem saja karena singkongnya pun
hasil kebun sendiri.
Komentar
Posting Komentar